Al-Hasan Al-Basri : "kalian tidak lebih dari sekumpulan hari-hari, setiap pergi satu hari, maka berarti pergi juga sebagian dari kalian" Rusdin

Jumat, 11 November 2011

Cinta Bukan Seks


Cinta, adalah anugerah teindah dalam hidup. Keberadaannya membuat dunia yang keras dan gelap berubah menjadi ketegaran dan harapan baru. Dia adalah sumber inspirasi, penambah daya terhadap kekuatan fisik yang tak seberapa. Hanya karena cinta, seseorang dapat mengorbankan segalanya. Cinta, sebuah kekuatan yang sangat dahsyat.
Mengapa jika saya mengatakan “saya cinta padamu”, anda akan berpikir bahwa saya sedang jatuh cinta kepada seseorang perempuan yang cantik? Atau jika saya (laki-laki) mengatakan kepada teman saya yang juga laki laki “saya mencintaimu”, anda akan berpikiran lain bahwa saya mengalami gangguan orientasi seksual (homoseks)? Ini karena makna cinta mengalami penyempitan. Makna cinta sekarang tidak lebih dari sekedar menjalin hubungan asmara (pacaran).
Cinta yang muncul hanya sekedar mencintai dan jatuh cinta kepada seseorang karena tampilan fisik yang menarik, adalah sebuah ekspresi cinta tingkat rendah, cinta yang dimiliki oleh semua jenis makhluk, termasuk binatang. Pada teori psikoanalisa, cinta jenis ini muncul karena adanya dorongan-dorongan id (dorongan primitif) atau hasrat seksual. Jika cinta terus berkembang karena anda berpikir bahwa dia memang layak untuk dicintai, maka posisi cinta akan naik sedikit kearah ego (realistis). Dan jika anda memperhatikan rambu-rambu dalam bercinta, maka anda akan menempati cinta paling tinggi dalam teori psikoanalisa yaitu (superego). Ini dapat menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki cinta sejati terhadap pasangan adalah seseorang yang sudah berada pada posisi tingkat tinggi (superego), dan hanya pernikahan yang bisa meraihnya. Pada kasus hubungan cinta pacaran, norma-norma sosial sebagai rambu masih sering diabaikan, bahkan terkadang ekspresi cinta itu jatuh ke arah id (hasrat seksual/dorongan primitif).
Cinta kepada keluarga, cinta kepada teman, cinta kepada pekerjaan, cinta kepada atasan atau bawahan, cinta kepada hewan peliharaan dan seterusnya adalah macam-macam dari objek cinta. Objeknya cinta sangat luas, seluas mata memandang, seluas hati bisa merasakan. Ekspresi cinta adalah kebahagiaan, ketenangan, persahabatan, rasa kasihan dan seterusnya. Jika ada yang melanggar cinta, maka ekspresinya akan berubah menjadi kesedihan, kesengsaraan, kebencian, ketidakpercayaan dan seterusnya. Dalam bentuk fisik cinta akan identik dengan senyuman dan optimism, jika ini ada yang melanggar cinta, maka ekspresinya juga akan berubah menjadi, tangisan dan ketidakberdayaan.
Seperti yang sudah dikatakan diatas, objek cinta begitu luas, seluas mata memandang, seluas hati merasakannya, tiada yang bisa mengukur betapa luasnya, yang jelas, cinta tak mempunyai batas. Mungkin, ada orang yang mengatakan, bahwa batasnya adalah kebencian. Saya berpendapat bahwa, cinta dan benci adalah suatu pribadi yang berbeda. Jika cinta sudah memenuhi kalbu, kebencian tidak akan mempunyai tempat. Begitupun sebaliknya, jika benci memenuhi hati, cinta akan tersingkir. Cinta dan benci, tidak bisa serumah, dia seperti malaikat dan syaithon. Tinggal kita memilih, mau menanam cinta, atau atau menabur kebencian?