Al-Hasan Al-Basri : "kalian tidak lebih dari sekumpulan hari-hari, setiap pergi satu hari, maka berarti pergi juga sebagian dari kalian" Rusdin

Kamis, 08 Maret 2012

KEHIDUPAN SEX PARA REMAJA PRA-NIKAH


Tingkat Keberanian Melakukan Hubungan Seksual Pranikah Para Remaja
Di negara berkembang kehidupan para remaja sangat memprihatikan dengan tingkat keberanian melakukan hubungan sex pranikah yang meningkat tajam. Hal ini dengan adanya kemajuan teknologi dan komunikasi di jaman penuh dengan keterbukaan. Ini bukan saja dialami oleh negara non muslim tapi yang lebih parah lagi di negara muslim seperti di Indonesia yang merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Agama bukan merupakan patokan lagi dalam hidup pada saat ini karena menurut mereka agama adalah sesuatu yang ghaib.
Dengan kemampuan informasi dan teknologi adalah hal yang mudah bagi mereka untuk menyerap langsung informasi dari berbagai media yang berkembang saat ini. Kehancuran dinding perisai oleh  demokratisasi dan teknologi membuat pembatas antara timur dan barat sudah tidak ada lagi. Dengan tidak adanya penghalang dan perisai tersebut memudahkan kita untuk saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya. Apapun yang dilakukan oleh negara-negara maju saat ini, kita dapat langsung melihat dan berinteraksi pada saat yang sama.
Menurut perusahaan  google mesin pencari data dan informasi yang terbesar mengeluarkan pernyataan pada bulan september 2011, menyatakan bahwa situs porno merupakan paling banyak dicari oleh neeter diseluruh dunia dan Indonesia merupakan negara terbesar kedua di Asia yang menggunakan internet setelah Jepang dan India.
Penyebebnya antara lain: Pertama dengan keterbukaan informasi inilah yang membuat para remaja tidak mampu lagi mengendalikan diri dari hal-hal sexualitas. Kedua kurang mampunya orang tua memberikan pengetahuan yang lebih mengenai pengetahuan sexsualitas pada anaknya, sehingga pada diri anak tersebut mendapatkan informasi dari teman-temannya saja. Ketiga kurang hidupnya suasana agama dalam kehidupan keluarga sehingga agama tidak penting bagi mereka karena disebabkan pemahaman agama mereka kurang. Dari beberapa hal diatas membuat romantikasme kehidupan para remaja berorientasi pada  mengidolakan media-media yang nampak dihadapan mereka sehingga mereka berani melakukan hubungan seksualitas yang awalnya hanya ingin mencoba dan penasaran.
Menurut penelitian yang dilakukan pada tahun 2006 sampai 2011 secara nasional tingkat keberanian seksualitas remaja cukup tinggi bahwa 90% keatas remaja pernah melakukan seksualitas dan 60 persen diantaranya dilakukan di rumah sendiri. Hasil penelitian secara keseluruhan yang dilakukan oleh Komnas Perlindungan Anak dan PKBI pusat yang di akses di website www.detik.com dan www.hidayatullah.com pada tanggal 23 Februari 2012 mengatakan: Hasil Survei Komnas Perlindungan Anak di 33 provinsi tahun 2008 tentang remaja SMP dan SMA, yang pernah menonton film porno mencapai 97 persen. Remaja SMP dan SMA yang pernah berciuman, masturbasi dan oral seks mencapai 93,7 persen, remaja SMP tidak perawan 62,7 persen dan remaja yang pernah aborsi mencapai 21,2 persen. Bahkan, data PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) tahun 2006 menunjukkan remaja yang mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah adalah remaja usia 13 hingga 18 tahun. 60 persen diantaranya mengaku tidak menggunakan alat kontrasepsi dan mengaku melakukannya di rumah sendiri.
Dr Sudibyo Alimoeso, MA, Deputi Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN, dalam acara temu media di Gedung BKKBN Pusat, Jakarta, Rabu (22/2/2012). Mengatakan "Seksual aktif di kalangan remaja adalah realitas yang tidak bisa dipungkiri. Tingginya remaja yang melakukan seks pranikah di rumah karena orangtua merasa aman kalau membiarkan anaknya ada di rumah sendiri, sehingga tidak terlalu diawasi. Padahal, remaja paling banyak melakukannya di rumah,"
Menurut Dr Sudibyo, kebanyakan remaja awalnya melakukan hubungan seks pranikah hanya karena coba-coba dan penasaran. Ini terjadi karena kurangnya pengetahuan kesehatan reproduksi dan seksual yang dimiliki remaja. Selain itu, kurangnya pengawasan orangtua di rumah juga seringkali membuat remaja merasa nyaman dan aman untuk melakukan hubungan seks pranikah. "Ini juga karena pengetahuan orangtua yang tidak cukup untuk berkomunikasi tentang seksualitas dengan anak. Seharusnya anak mendapatkan informasi yang tepat dari orangtua agar dia tidak mendapatkan informasi yang salah dari luar, karena menurut survei kebanyakan remaja dapat informasi tentang seks dari temannya,"
Penelitian diatas membuktikan bahwa betapa bebas dan beranainya remaja di jaman yang penuh dengan keterbukaan informasi dan teknologi untuk melakukan secara langsung hubungan seksualitas pranikah, pengawasan kadang tidak cukup buat para orang tua untuk mengotrol anaknya karena keterbatasan waktu. Hal yang terpenting adalah memberikan pemahaman yang cukup pada mereka mengenai bahaya dan efek pada seksualitas dan selanjutnya menghidupkan suasana agama pada keluarga.
Di daerah ini ketika kita berjalan-jalan di area puri indah ginte, pada awal malam hari maka kita akan jumpai para remaja yang duduk berpasang-pasangan diatas motornya masing-masing kadang keberadaan mereka sampai larut malam dan apa yang dilakukan oleh mereka? ada yang hanya sekedar untuk mengobrol sehingga menghabiskan waktu sampai larut malam, dan ada juga sekedar berdiri saja ketika ada lampu motor yang menyorot mereka sehingga mereka cepat menghindar dari sorotan lampu tadi, dan timbul pertanyaan di benak kita apakah yang mereka lakukan sehingga sampai larut malam dimanakah pengawasan orang tua pada anaknya, dan adakah orang tua yang bertanya dimanakah anak saya pergi....? menurut pemahaman sebagian orang, ini adalah merupakan romantikasme, gaya dan model baru generasi kita dalam melakukan pendekatan pada seksualitas.